gunadarma

http://gunadarma.ac.id/

Selasa, 24 April 2012

Tari Gandrung


TARI GANDRUNG BANYUWANGI
Sebuah Potret Sejarah Seni Pertunjukan



Abstrak: Seni pertunjukan rakyat banyak dijumpai di wilayah Banyuwangi. Hal ini sebagai bukti bahwa sejarah seni pertunjukan tradisional masih dapat survive sampai sekarang. Tari Gandrung Banyuwa ngi merupakan salah satu seni pertunjukan tradisional yang masih dapat menunjukkan eksistensinya. Tari Gandrung merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan rohani, karena dikaitkan dengan unsur sakral yang dipercayai oleh masyarakat. Cerita yang ada pada tari gandrung tidak lepas dari kepercayaan tentang sejarah masa lalu wilayah Banyuwangi.
Kata Kunci: Tari Gandrung, Banyuwangi, Sakral

Banyuwangi dalam konteks kepariwisataan sudah sangat memungkinkan untuk dijadikan tolok ukur obyek kajian penelitian. Hal ini terutama di sebabkan karena dari segi geo-kultural, wilayah Banyuwangi memiliki potensi yang sangat kaya dengan khazanah sejarah dan kebudayaan. Namun potensi tersebut belum banyak yang mengkajinya, walaupun ada baru sedikit sekali yang dikelola dan diapresiasikan untuk kepentingan pariwisata, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Salah satu potensi tersebut sebut saja misalnya tari Gandrung Banyuwangi. Sejarah perkembangan tari gandrung tidak dapat dilepaskan dengan perkembangan tari seblang. Hal ini sebagaimana dijelaskan Hendyck Suwardi (1984) dalam pertemuan para budayawan Banyuwangi menjelaskan, bahwa gandrung di tinjau dari segi terjadinya ada kaitannya dengan 2 (dua) buah seni pertunjukan sakral yaitu: “Sang Hyang” dan “Seblang”. Kedua tari tersebut merupakan gabungan jenis tari yang dianggap sebagai kegiatan upacara yang1
mengandung kepercayaan magis dari agama Hindu. Karena lewat mantra-mantranya dan upacara magis tertentu, yakni dengan memanggil seorang dewi atau bidadari untuk turun ke dunia melalui sebuah medium gerak (tari).

Tari Gandrung Banyuwangi (Gandrung Banyuwangi)
Tari gandrung Banyuwangi memiliki banyak aspek yang mendapatkan perhatian secara cermat, untuk itu berikut ini diberikan deskripsi tentang identitas tari gandrung Banyuwangi.
Nama : Tari Gandrung Banyuwangi
Daerah asal : Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi
Fungsi : Tari Pertunjukan
Tema / isi : Tarian sakral
Komposisi tari : Tari tunggal
Desain lantai : lurus, melingkar, dan diagonal.
Ragam tari : jejer, gandrungan,seblangan.
Komposisi koreografis:
1. Titik tumpu, pada umumnya tarian Banyuwangi, bertitik tumpu pada berat badan terletak pada tapak kaki bagian depan (jinjid).
2. Tubuh bagian dada di dorong kedepan seperti pada tari Bali
3. Gerak tubuh ke depan yang di sebut dengan ngangkruk
4. Gerak persendian; terbagi dalam gerak leher, misalnya:
a. Deleg Duwur, yaitu gerakan kepala dan leher yang digerakkan hanya leher bagian atas saja, gerak kepala ke kiri dan ke kanan.
b. Deleg nduwur atau dinggel, yaitu sama dengan atas hanya saja disertai dengan tolehan.
c. Deleg manthuk, yakni gerakan kepala mengangguk.
d. Deleg layangan, yaitu gerakan deleg duwur yang di sertai dengan ayunan tubuh.
e. Deleg gulu, yaitu gerakan kepala ke kiri dan ke kanan.
Di samping itu masih ada lagi gerak persendian bahu. Gerakan ini dalam tari gandrung terdiri dari:
a. Jingket, gerakan bahu yang di gerakan ke atas kebawah atau ke samping.
b. Egol pantat yang lombo dan kerep, yakni gerakan pantat ke kanan ke kiri mengikuti iringan musik gendang.
Sikap dan gerak jari, gerakan ini ada 3 (tiga) macam diantarannya:
1. Jejeb yaitu posisi tiga jari merapat dan telunjuk merapat pada ibu jari.
2. Cengkah yaitu keempat jari merapat dan ibu jari tegak kearah telapak tangan.
3. Ngeber yaitu telapak tangan terbuka, tangan lurus sejak pangkal lengan sampai ujung jari.
Permainan sampur, merupakan komunikasi antara pria dan wanita. Dalam hal ini ada beberapa macam antara lain.
1. Nantang, yaitu sampur di lempar ke arah penari pada gong pertama dan seterusnya.
2. Ngiplas atau nolak kanan dan kiri satu persatu.
3. Ngumbul, yaitu membuang ujung sampur ke atas kedalam atau keluar.
4. Ngebyar, yaitu kedua ujung sampur di kibaskan arah ke dalam atau ke luar.
5. Ngiwir, yaitu ujung sampur di jipit dan di getarkan.
6. Nimpah, yaitu ujung sampur disampirkan ke lengan kanan atau kiri pada gerakan sagah atau ngalang.
Sikap dan gerakan kaki, gerakan ini antara lain.
1. Laku nyiji
2. Laku ngloro
3. Langkah genjot
4. Langkah triol atau kerep.
Latar Belakang dan Sejarah Tari Gandrung.
Tari gandrung yang di bahas dalam studi ini merupakan jenis seni tari yang berkembang di wilayah Banyuwangi dan menjadi kebanggaan masyarakat, terutama di masyarakat “Osing” sehingga lebih di kenal dengan sebutan gandrung Banyuwangi. Tari gandrung ini, keberdaannya terkait langsung dengan dua jenis seni pertunjukan yang disakralkan oleh sebagian masyarakat Osing di Banyuwangi, yakni “Sang Hyang” dan tari “Seblang” keduanya merupakan jenis tari yang disakralkan sehingga keterkaitannya dengan kegiatan upacara magis yang selalu di peringati setiap tahun oleh masyarakat pendukungnya, yaitu masyarakat “Osing”
Kedua jenis seni yang merupakan tarian kepercayaan dari agama Hindu, dengan mantra-mantranya dan upacara magis tertentu itu, maka dalam pertunjukannya lewat mantra-mantranya memanggil seorang dewi atau bidadari untuk turun ke dunia yang diwujudkan dengan menggunakan medium anak-anak, adalah digambarkan dengan menggunakan anak kecil sekitar umur  10 tahun. Anak yang dijadikan sebagai medium pertunjukan pada umumnya adalah anak laki-laki, kemudian seorang “pengundang” sambil membakar kemenyan yang asapnya ditiupkan dihadapan sang anak, sambil mengalunkan gending-gending, sesaat kemudian anak tersebut menjadi tidak sadarkan diri seperti orang gila. Dalam hal ini ia menari-nari sambil membawa sebilah keris yang ditusuk-tusukkan di bagian tubuhnya, namun anehnya dalam tubuh anak tersebut tidak ada bekas luka-luka sedikitpun. Kejadian semacam ini juga terdapat dalam tari seblang, tapi mediumnya anak perempuan kecil yang umurnya sama dengan tarian sang Hyang. Dalam menari anak tersebut juga memegang sebilah keris tetapi pada saat tidak sadar keris tersebut tidak untuk menusuk pada bagian tubuhnya, melainkan dimainkannya bagikan kipas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar